Melawan Maksiat Hoaks di Pilkada 2020

Home / Kopi TIMES / Melawan Maksiat Hoaks di Pilkada 2020
Melawan Maksiat Hoaks di Pilkada 2020 Fathullah Uday, Penulis salah satu santri di Situbondo sekaligus Jurnalis TIMES Indonesia.

TIMESSITUBONDO, SITUBONDO – Situbondo merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang bakal menyelenggarakan Pilkada 2020. Pada momentum Pilkada inilah banyak potensi hoaks atau informasi negatif yang akan merajalela di dunia maya bahkan akan membabi buta bagi pengguna media sosial yang tidak bijak memanfaatkannya.

Media sosial masih dianggap sebagai senjata ampuh bagi pelakunya untuk mempengaruhi masyarakat, tidak sedikit yang menjadi korban maksiat hoaks harus berurusan dengan pihak yang berwajib bahkan bisa menjadi bibit konflik manakala tidak terdeteksi sedini mingkin.

Dalam keterangan kitab Risalah Al-Mustarsyidin, maksiat berasal dari kata bahasa Arab yang bermakna menentang, melanggar, dan durhaka. Sedangkan pengertian hoaks adalah informasi bohong. Seperti ujaran kebencian, fitnah, gibah, namimah, dan saudara-saudaranya. Itu semua termasuk bagian dari maksiat.

Kecanggihan teknologi dinilai sangat efektif bagi pelaku maksiat hoaks dijadikan media memelintir fakta dijadikan fitnah, memproduksi informasi sebanyak-banyaknya yang tidak jelas perawi dan sanadnya, membenturkan penyelenggara dengan kontestannya sehingga masyarakat dibuat tidak percaya dengan integritas penyelenggara bahkan dibuat senjata pamungkas untuk menjatuhkan rival politiknya.

Dalam konteks Pilkada Situbondo 2020, Setidaknya bagi semua pihak harus bergandengan tangan dan tetap berjamaah dalam memerangi maksiat yang satu ini. Efek dari penggunaan media sosial yang tidak bijak akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, tidak terkecuali bagi para pelaku politik, seharusnya menampilkan wajah politik yang santun, menyuguhkan menu-menu program unggulan, dan kompetitif dengan sehat dalam meraih kemenangan.

Cara Melawan Maksiat Hoaks

Derasnya maksiat hoaks atau informasi bohong sudah tidak lagi terbendung bahkan sudah menjadi konsumtif setiap hari, bagi pelaku sudah pasti mendapat dosa jariyah, dosa yang mengalir terus bagi si pelaku atau bahkan akan berurusan dengan pihak yang berwajib. Dan untuk yang termakan hoaks berhentilah menyebarluaskan dan stop sampai di genggamannya.

Setidaknya ada 3 pedoman pokok yang harus dipahami dalam bermedia sosial yang bijak dalam rangka berupaya membendung maksiat hoaks, yakni pertama, klarifikasi (tabayyun). Di sinilah pentingnya mencari tahu bahwa informasi yang didapat tidak ditelan mentah mentah, sumber dan dampak dari informasi tersebut harus jelas, harus cerdas memilih dan melilah mana yang berisi konten positif dan mana yang negatif sehingga pengguna media sosial tidak terjebak pada dosa yang tidak kerasa.

Kedua, berprasangka positif (husnuddzan). Dalam interaksi sosial bahkan dalam media komunikasi diperlukan berprasangka positif untuk menggali kekurangan diri sendiri bahkan dijadikan motivasi. Hal ini dapat menjaga persahabatan dalam berkompetesi dan merawat tatanan sosial.

Ketiga, tidak menyebar luaskan Informasi bohong. Kalau informasi yang sudah diyakini ketidakbenarannya, maka jangan disebarluaskan dan stop dalam genggaman pengguna media sosial. Jadikan pengetahuan pribadi agar tidak berdampak negatif yang lebih luas lagi. Karena bahaya informasi bohong kadang dijadikan mortir oleh pemanfaat informasi bohong untuk membombardir dalam rangka menjatuhkan lawan politiknya.

Menebar Politik Santun dan Beretika

Mendekati Pilkada Situbondo 2020 yang sudah tinggal delapan bulan lagi akan digelar, setidaknya harus dimasifkan, diinternalisasikan bahkan dilantangkan pendidikan politik santun dan beretika oleh semua pihak. Di awal tahun ini suhu politik adem ayem sudah menjadi pembuka yang baik, hampir tidak ada komentar komentar pahit ditujukan kepada lawan politik. Kalaupun ada, persentasenya sangat sedikit hanya pada pandangan atau pilihan politik yang berbeda.

Setuju atau tidak setuju, bahwa beda pendapat sah-sah saja dan beda pilihan politik adalah hal yang wajar. Namun dalam meraih, memelihara atau bahkan mempertahankan kekuasaan berperiode harus berwajah santun dan beretika sudah tidak jamannya lagi mengunakan cara-cara jahiliyah.

Walhasil, bagi semua aktor baik yang elit dan yang awam wajib hukumnya menjaga marwah Bumi Shalawat Nariyah sehingga tidak terkotori momentum politik lima tahunan atau dari maksiat hoaks serta menjaga eksistensi kabupaten yang berbau religius dengan mengedepankan nilai-nilai etika dan kesantunan dalam berkontestasi sehingga dicapailah slogan menang bermartabat atau kalah terhormat. Wallahu a’lamu bisshowab. (*)

 

*) Penulis: Fathullah Uday, Penulis salah satu santri di Situbondo sekaligus Jurnalis TIMES Indonesia.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com