Simalakama New Normal

Home / Kopi TIMES / Simalakama New Normal
Simalakama New Normal Sugeng Winarno, Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

TIMESSITUBONDO, MALANG – Awalnya Roger McNamee (2003) memperkenalkan istilah new normal (normal baru) untuk menyebut perubahan perilaku masyarakat dari kehidupan normal menjadi normal baru dengan adanya internet. Perilaku yang semula banyak dilakukan di dunia nyata, pelan-pelan bergeser menjadi dilakukan di dunia maya. New normal seperti yang dikemukakan McNamee sesungguhnya sudah dilakukan masyarakat Indonesia sebelum pandemi.

Kini, konsep new normal itu coba diadopsi dengan dimodifikasi untuk perubahan perilaku masyarakat tak hanya karena adanya internet. Gara-gara Corona (Covid-19) beragam perilaku baru harus dilakukan masyarakat. Memakai masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak, dan sejumlah protokol kesehatan pelan-pelan telah menjadi kebiasaan baru yang harus dilakukan masyarakat. Awalnya terpaksa, namun pelan-pelan kini mulai terbiasa.

New normal juga diterjemahkan menjadi bagaimana orang bekerja, berbisnis, beribadah, menuntut ilmu, membuka tempat wisata, hotel, dan beragam sektor kehidupan manusia. Cara-cara baru ditempuh untuk menyiasati situasi sulit agar tak terus terpuruk saat pandemi. New normal bisa jadi cara kompromi untuk berdamai dengan ancaman virus yang setiap saat bisa menyerang siapa saja itu.  

Simalakama

Kini sejumlah daerah mencoba bersiap menerapkan new normal. Malang Raya misalnya. Walikota Malang, Walikota Batu, dan Bupati Malang sudah bersepakat akan menjalankan kenormalan baru. Tiga kepala daerah Malang Raya ini setuju mengakhiri Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada 30 Mei 2020 dan menggantinya dengan kebijakan new normal yang diawali masa transisi menuju penerapan new normal.

Di sejumlah kota lain, di Bandung, juga bersiap menerapkan new normal. Sementara beberapa daerah lain, di Yogyakarta misalnya, masih tak terburu memberlakukan kebijakan new normal. Di beberapa daerah di luar negeri ada yang sukses penerapkan new normal, namun yang gagal juga ada. Di Korea Selatan misalnya, dikabarkan penerapan new normal gagal karena kasus positif Covid-19 jumlahnya justru bertambah.

Keputusan memberlakukan new normal memang bukan keputusan yang mudah. Memutuskan menerapkan new normal atau tetap PSBB itu seperti memakan buah simalakama. Serba sulit, serba salah. Di satu sisi, new normal perlu dilakukan agar kehidupan ekonomi bisa kembali bergeliat. Pasar, mall, hotel, tempat rekreasi, sekolah, kampus mulai dinormalkan pelan-pelan. 

Namun new normal masih harus berhadapan dengan bayang-bayang penyebaran Covid-19. Seperti diketahui, hingga saat ini kasus Covid-19 di Indonesia belum mencapai puncaknya. Tak ada ahli yang bisa memastikan kapan serangan virus Covid-19 akan berakhir. Sementara masyarakat juga tak bisa bertahan lebih lama lagi hanya tinggal di rumah. Banyak masyarakat yang tak punya penghasilan dengan hanya tinggal di rumah. Memang ada sejumlah sektor pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah (work from home), namun banyak pekerjaan lain yang tak bisa dilakukan hanya dari rumah. 

Tak sedikit masyarakat yang kesulitan ekonomi. Sejumlah perusahaan juga sudah banyak yang merumahkan karyawannya tanpa gaji, bahkan banyak juga yang telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Kalau kebijakan untuk hanya tinggal di rumah diperpanjang bisa jadi akan ada orang yang meninggal bukan karena serangan virus Corona, namun mati karena kelaparan.

Kran keterbukaan lewat new normal sepertinya merupakan solusi sementara sambil melihat keadaan. New normal bukan berarti kehidupan kembali normal seperti sebelum ada pandemi. Saat new normal tetap harus menerapkan sejumlah protokol kesehatan. Artinya new normal tetap harus mengedepankan keselamatan. New normal sangat ditentukan kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan hidup baru ini.

Keputusan sejumlah daerah menerapkan new normal juga menuai pro kontra di masyarakat. Yang pro menilai ini solusi keluar dari situasi sulit. Sementara yang kontra lebih didasari ketakutan jangan-jangan new normal justru akan memperburuk keadaan. Sementara pemerintah juga tak punya banyak pilihan. Antara menerapkan new normal atau tidak keduanya mengandung resiko yang harus dihadapi.

Perlu Disiplin

Pemberlakukan new normal tetap dengan syarat yang ketat pemberlakuan protokol di sejumlah bidang. Pembukaan tempat rekreasi misalnya. Harus ada pedoman yang jelas  untuk mengatur bagaimana tempat wisata melayani para pengunjung. Demikian halnya dengan pembukaan hotel, restoran, pasar, mall, dan tempat yang lain. Semua harus dibuat aturan main yang jelas dan aman.

Semua aturan yang dibuat sebagai panduan penerapan new normal tak ada artinya kalau tak ada kedisiplinan dalam penerapan sejumlah protokol itu. Kedisiplinan merupakan kunci keberhasilan agar new normal bisa berjalan dengan baik dan kasus positif Covid-19 bisa ditekan. Antara new normal dan penanganan pandemi bisa berjalan seirama. Ekonomi kembali bergeliat, kasus positif Covid-19 bisa dikendalikan.

Penegakan aturan pelaksanaan new normal harus juga ditegakkan. Sangsi terhadap mereka yang melanggar harus diberlakukan dengan tegas. Semua ini tentu bukan perkara mudah. Berkaca pada pelaksanaan PSBB, masih banyak masyarakat yang melanggar aturan yang telah diputuskan pada status daerah yang menerapkan PSBB. Sementara new normal situasinya dibuat lebih longgar dibanding dengan PSBB. Kesadaran masyarakat dalam mematuhi sejumlah aturan dan penegakkan disiplin menjadi satu paket yang harus diwujudkan.

Pilihan new normal memang sebuah pilihan sulit. Segala resiko memang harus diterima. New normal merupakan salah satu ihktiar keluar dari situasi sulit di tengah banyak orang yang hanya bisa rebahan dan berdiam diri di rumah saja. Keputusan memilih new normal tentu sudah melalui kajian yang mendalam. Semoga keputusan untuk menerapkan new normal bukan kebijakan coba-coba (trial error).

Semoga dengan new normal kehidupan benar-benar menjadi lebih baik. New normal life merupakan cara berdamai dengan pandemi Covid-19 ini. Semoga langkah ini bukan upaya yang keliru. Semoga virus Corana segera berlalu seiring dengan cara hidup baru yang dilakukan masyarakat. Selamat datang new normal life. (*)

 

*) Penulis: Sugeng Winarno, Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com