Dimotori Alumni Banyuwangi, Santri Ponpes Al Falah Membentuk ‘Islah’

Home / Berita / Dimotori Alumni Banyuwangi, Santri Ponpes Al Falah Membentuk ‘Islah’
Dimotori Alumni Banyuwangi, Santri Ponpes Al Falah Membentuk ‘Islah’ Pengurus harian Islah foto bersama. (Foto : Syamsul Arifin/ TIMES Indonesia)

TIMESSITUBONDO, BANYUWANGI – Setelah diwacanakan sejak peringatan Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2017, lalu, akhirnya alumni Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah, Kecamatan Silo, Jember, resmi membentuk ‘Islah’, Ikatan Santri Alumni Al Falah.

Karena ide dimotori oleh para alumni asal Banyuwangi, pengukuhannya pun digeber di Bumi Blambangan. Tepatnya di YPI Nurul Falah, di Dusun Karang Anyar, Desa Kajarharjo, Kecamatan Kalibaru, Minggu kemarin (26/11/2017).

“Pengukuhan kita kemas dalam bentuk pengajian, sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW,” ucap Ketua Umum Islah Pusat, Ustad Hemmam Ibsyi, MPd I, Selasa (28/11/2017).

Disebutkan, sedikitnya 500 orang lebih alumni dari berbagai daerah di Banyuwangi, hadir. Termasuk sejumlah alumni yang menduduki jabatan di pemerintahan. Seperti Wakil Bupati Jember, Drs. KH. Abd. Muqit Arief dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banyuwangi, Muhammad Sahlan, S.Sos, MA.

“Islah harus menjadi jembatan silaturahmi baik antar santri dan masyarakat maupun pemerintah. Islah harus menjadi lembaga yang mandiri,” ucap Pengasuh Ponpes Al Falah, K. Muhammad Ma’mun, S.Ag., M.Sy.

Sementara itu, Drs. KH. Abd. Muqit Arief, selaku Ketua Yayasan Ponpes Al Falah, Jember, mengimbau seluruh anggota Islah untuk selalu menjadi duta pesantren. Sebagai penebar kebaikan, dakwah dan kemaslahatan untuk masyarakat. Pemahaman-pemahaman yang diperoleh di Pesantren diminta untuk terus dibawa ke masyarakat.

“Jangan sampai terpengaruh aliran-aliran yang gak jelas, aliran keras, gampang mengkafirkan orang lain dan lainnya, tapi selalu menjadi juru dakwah yang mengedepankan akhlakul karimah,” katanya.

Muhammad Sahlan, S.Sos, MA, yang didaulat sebagai Ketua Pembina Islah periode 2017-2020, menambahkan, lembaga yang telah terbentuk bukan hanya sebagai ajang berkumpul. Tapi harus mampu menjadi wahana silaturahmi yang produktif. Seluruh anggota satu dan lainnya, harus mampu saling melengkapi.

“Terutama dibidang kesejahteraan (Usaha) dan Pendidikan,” ungkap pria yang juga anggota Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Banyuwangi, ini.

Ada yang unik dalam berbagai kegiatan alumni santri Ponpes Al Falah, Jember ini. Setiap kali pertemuan, mereka yang mayoritas berasal dari Banyuwangi, selalu menyajikan nasi gulung sebagai santapan. Kenapa? Itu dilakukan sebagai bentuk nostalgia masa-masa mereka masih menjadi santri. Dimana, nasi gulung yang berupa nasi putih dengan lauk telur rebus atau lauk sederhana dibungkus daun pisang adalah bekal yang dibawakan oleh orang tua, setiap kali hendak kembali ke pesantren. (*)

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com