Mengenal Gua Sunyaragi, Situs Bersejarah di Kota Cirebon yang Terbuat dari Batu Karang

Home / Wisata / Mengenal Gua Sunyaragi, Situs Bersejarah di Kota Cirebon yang Terbuat dari Batu Karang
Mengenal Gua Sunyaragi, Situs Bersejarah di Kota Cirebon yang Terbuat dari Batu Karang Taman Sari Gua Sunyaragi. (Foto: Muhamad Jupri/TIMES Indonesia)

TIMESSITUBONDO, CIREBON – Taman Sari Gua Sunyaragi merupakan salah satu destinasi wisata sejarah yang terletak di Kota Cirebon. Situs bersejarah di Kota Cirebon ini terdiri dari susunan batu karang yang ditumpuk dengan kokoh, dan membentuk gua-gua. Tempat ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Kota Cirebon maupun luar.

Kompleks Taman Sari Gua Sunyaragi terletak di Jalan Brigjen Dharsono (By Pass) Kota Cirebon. di atas dengan luas sekitar 15 hektare. Situs ini merupakan peninggalan Kesultanan Cirebon dan dijadikan sebagai cagar budaya serta menjadi tempat wisata di Kota Cirebon.

Suasana-Goa-Sunyaragi-Kota-Cirebon.jpg

Menurut pengelola Taman Sari Gua Sunyaragi, Jajat Sudrajat, dulunya tempat ini dijadikan oleh para keluarga Keraton untuk bertafakur dan menyucikan diri di dalam gua-gua buatan yang terbuat dari batu karang. Konon katanya, batu-batu karang tersebut berasal dari Laut Selatan Jawa.

"Tapi jangan ditanya bagaimana cara membawa batu-batu tersebut dari sana ke Cirebon. Karena zaman dulu orang-orangnya mempunyai ilmu yang cukup tinggi," jelasnya kepada TIMES Indonesia, Kamis (21/5/2020).

Mengacu pada catatan sejarah yang ditulis oleh Pangeran Sulaeman Sulendraningrat, Gua Sunyaragi didirikan tahun 1703 M oleh Pangeran Arya Carbon, cicit Sunan Gunung Jati.

Namun, ada pitutur yang menjelaskan bahwa tahun tersebut merupakan perbaikan dan penyempurnaan yang pertama kali di kawasan Gua Sunyaragi. Ini mengacu pada pitutur berkenaan Candra Sangkala Bujangga Ratu Oba' Ing Bumi, yang dibaca menjadi 1518. Sementara selisih tahun Jawa dengan tahun Internasional 78 tahun. Artinya secara tahun umum berarti 1596.

Masa tersebut adalah masa PRA Zaenal Arifin atau Pangeran Mas yang merupakan Sultan Cirebon pertama setelah wafatnya Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Pangeran Mas adalah putra Sunan Gunung Jati dari Ibu bernama Nyai Mas Tepasari dari Demak.

Taman Sari Gua Sunyaragi sendiri dibangun di lokasi yang sekarang, karena Taman Keputren Nur Giri Sapta Arga berubah fungsi menjadi pemakaman, yang sekarang dikenal dengan Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati.

Nama Gua Sunyaragi sendiri, lanjutnya, berasal dari bahasa Sansekerta, yakni kata "sunya" yang artinya sepi dan "ragi" yang berarti raga. Sedangkan dalam Bahasa Cirebon, Gua Sunyaragi dikenal dengan sebutan 'Taman Kaputren Panyepi Ing Raga', yang berarti 'Taman Keluarga Keraton untuk Menyucikan Diri'.

Jajat menjelaskan, Panyepi ing Raga di sini adalah kearifan lokal untuk menghapus kata 'bertapa', karena bertapa berasal dari Hindu, meskipun wujudnya sama, yaitu menyucikan diri dari dunia ramai.

"Di sini, keluarga keraton bertapa untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, bertafakur, dan menyucikan diri. Kegiatan tersebut dilakukan selama berbulan-bulan lamanya, hingga mereka mendapatkan pencerahan," tuturnya.

Adapun nama Taman Sari sendiri, karena kompleks ini merupakan taman air yang indah. Terdapat beberapa kolam, air terjun mini buatan, dan saluran air. Bahkan, kompleks ini dulunya berada di tengah-tengah danau yang bernama Danau Jati. Sehingga tak jarang, Gua Sunyaragi kerap disebut water castle atau istana air. Sayangnya, kini danau tersebut mengering dan sudah menjadi Jalur Pantura serta pemukiman. Air-air yang memenuhi taman air ini pun ikut mengering.

"Makanya ada jalan yang bernama Kandang Perahu di dekat sini, karena dulunya tempat itu digunakan untuk menambatkan perahu yang digunakan untuk menyebrangi danau menuju ke sini," ujarnya yang juga Pemerhati Sejarah dan Budaya Cirebon.

Menurut Jajat, Gua Sunyaragi ini tidak dibuat secara asal saja. Terdapat filosofi-filosofi tentang kebaikan di setiap sudut guanya. Contohnya seperti Gua Peteng (gelap), yang memiliki makna simbol di mana mampu atau tidaknya manusia keluar dari kegelapan. Gua Peteng sendiri difungsikan sebagai tempat untuk bertafakur agar bisa menyucikan diri dari kegelapan.

"Makna gelap ini banyak, yakni gelap pikiran, gelap hati, dan lain-lain," ungkapnya tentang filosofi bagian-bagian Gua Sunyaragi yang merupakan salah satu sSitus bersejarah di Kota Cirebon ini.(*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com